Senin, 16 Juli 2018

Goresan di Mobil



Tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Satu persatu rumah tetangga dilewatinya. Rasa bangga menghampiri perasaannya saat para tetangga menatap kagum pada mobil mewah yang sedang dikendarainya itu. Secara perlahan tapi pasti ia meningkatkan kecepatan mobil. Dipacunya Jaguar mewah itu menyusuri  jalanan. Ia betul-betul menikmati kendaraan yang tidak semua orang mampu memilikinya.

Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena mobil yang berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya perilaku anak-anak itu. Tiba-tiba, ia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di pinggir jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.


Dan…. “Bug....!” Aah..., ternyata ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan anak yang baru saja ia lihat melintas dari mobil-mobil yang terparkir. Sisi pintu mobil mewah itu pun penyok dan tergores.

“Ciiittt....” ditekannya rem mobil sekuat-kuatnya. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat dari mana arah batu itu di lemparkan.

“Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain,” begitu pikir sang pengusaha dalam hati.

Amarahnya memuncak. Ia pun keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Ditariknya anak yang ia tahu telah melempar batu ke arah mobilnya, dan dipojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

“Apa yang telah kau lakukan? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku! Lihat goresan itu,” teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.

“Kamu tahu, mobil ini baru dan akibat perbuatanmu jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk memperbaikinya!” Bentaknya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.

Tubuh si anak mulai menggigil ketakutan, wajahnya pucat dan ia berusaha untuk meminta maaf atas kebodohan yang sudah dilakukannya.

“Maaf Pak, maaf… Aku benar-benar minta maaf. Sebab, aku tidak tahu lagi harus melakukan apa.” Air mukanya berubah menjadi sangat mengiba, sementara tangannya bermohon ampun.

“Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti....”

Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.

“Itu…, di sana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tidak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang merintih kesakitan…”

Kini, tangisan anak itu makin terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu.

“Maukah Bapak membantuku mengangkatkannya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi aku tak sanggup mengangkatnya.”

Mengetahui kenyataan yang sesungguhnya, pengusaha muda itu tak mampu berkata-kata lagi, ia hanya terdiam. Amarahnya mulai sedikit mereda setelah dia melihat seorang lelaki lumpuh yang tergeletak sambil mengerang kesakitan. Kerongkongannya tersendat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera ia berjalan menuju lelaki tersebut, diangkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya.

Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.

“Terima kasih, Pak. Semoga Tuhan akan membalas kebaikan Bapak.”

Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka. Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Diperhatikannya pintu Jaguar barunya yang telah tergores akibat lemparan batu tadi, sambil merenungkan kejadian yang baru saja dilewatinya.

Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya. Akhirnya ia memilih untuk tidak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: “Janganlah melaju terlalu cepat dalam hidupmu, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”

Pesan Inspiratif:

Ketahuilah, sama seperti sebuah kendaraan, hidup kita akan selalu berputar dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam keadaan dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup ini terlalu cepat, sehingga tak pernah menyisakan waktu untuk menyelaraskannya dengan berbagai keadaan yang ada di sekitar kita?

Sungguh Tuhan akan selalu berbisik dalam jiwa dan berkata lewat kalbu kita. Namun karena kita tidak menyisihkan waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap bisikan-bisikan halus dari-Nya, dan kita lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan berbagai macam urusan, maka hidup ini kita pacu dengan penuh nafsu, hingga lupa untuk memperhatikan hal-hal yang kita lintasi. Sikap kita yang seperti itu terkadang membuat orang lain “melemparkan batu” ke arah kita. Tujuannya agar kita mau berhenti sejenak dan memperhatikan keberadaan mereka. Nah, semuanya berpulang pada diri kita: Apakah kita akan mendengar bisikan-bisikan Tuhan, atau menunggu ada yang “melemparkan batu” kepada kita, baru kita sadar dan berhenti sejenak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar